Rumah itu berdiri kokoh di kampung Karang Anyar, Mergangsan Yogyakarta, disanalah ibuku Siti Baroyah dilahirkan, dibesarkan dan akhirnya melahirkan aku, ibunya adalah simbok ( mbah Muri Putri ) sementara bapaknya adalah Mbah Muri Kakung, berpuluh tahun telah lewat, rumah masa kecilkupun telah roboh saat gempa bumi Yogyakarta Mei 2006 silam, yang juga mengakibatkan Lik Wafiyah ( Adik Ibu ) dan Lik Hilkam (suaminya) ikut menjadi syahid cerita rumah itupun menjadi kenangan kami, cucu cucunya. Rumah dengan pohon Jambu sukun dan ayam yang berkeliaran itu selalu membuat aku terkesan, apalagi diantara tanah yang lapang itu ada kolam lele bukan dumbo yang selalu membuat kami senang bermain di kolam kolam itu.
Mbah Muri Kakung dan putri adalah pelaku urbanisasi di tahun 1940 an, berasal dari dusun kecil disekitar gunung Wijil, di Kecamatan Delanggu, mempunyai saudara perempuan embah Yasro yang tinggal dipinggiran jalan Prawirotaman, sekarang sudah menjadi motel dan hotel, hidup di Yogyakarta dengan mengandalkan batik sebagai dagangannya, dengan enam orang anak, Baroyah, Jarkiyah, Dahlan, Wafiyah, M Hilal dan Sri Fajar Iswarin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar